alfarizsi

Sabtu, 07 Maret 2009

puisiku

Menuju satu


Setiap gerak langkah dan hidupku
Adahembusan nafas ibuku
Setiap gerak langkah dan hidupku
Ada cucuran keringat ayahku

Setiap aliran darah menyatu
Membulatkan tekadku
Membulatkan ambisiku
Memacu gerak jantungku

Menuju satu

Do’a, do’a kedua orang tuaku
Yang terus mengalir sepanjang waktu
Menyuruhku, memintaku
Menjadi orang yang nomor satu

Bukan satu di negaraku
Bukan juga di daerahku

Satu, satu orang yang berbakti pada mereka
Satu orang yang mengabdi pada sekelilingku
Bersama mereka aku menjadi satu
Menuju satu....


Apakah harapan tuhan

Hidup ini memang pilihan
Setiap pilihan adalah kenyataan
Namun apakah keknyataan itu,
Kenyataan yang kita inginkan?

Tak selamanya kawan
Tak selamanya lawan
Sebagian yang kita inginkan takan jadi kenyataan
Ada rintangan ada cobaan
Itu memang kehidupan

Tak akan ada yang menginginkan
Kenyataan tak sejalan dengan harapan
Tak sejalan dengan impian
Semua menginginkan kesamaan

Satu yang sering terlupakan
Pernahkah kita adukan, kita tanyakan
Satu harapan, satu keinginan dan satu impian
Yang sejalan dengan kehendak tuhan....



Hambamu Tuhanku

Tuhanku,
Mampukanlah aku berjalan
Dalam gelapnya malam
Kuatkanlah aku berdiri
Dikala aku berjalan
Tuhanku,
Papahlah aku berlari
Sampai tiba ajal nanti
Setelah semua yang ada
Berhasi aku nikmati


Jalan setan

Aku tiupkan angin ketelinga mereka
Dikala pagi menjelma
Aku percikan air ketangan mereka
Ketika siang menyapa
Dan aku selipkan warna kesaku mereka
Dimana malam mulai bicara

Itulah aku
Salah satu calon dari ribuan rakyatku
Yang akan berlaga dalam pemilu
Demi tujuanku, demi ambisiku
Apapun itu, aku pasti mampu


Kucari-kau curi

Kemana engkau melangkah
Kesana aku berlari
Dimana engkau berhenti
Disana aku sembunyi

Tidak aku sedang mengejar cinta
Juga bukan memaku rindu

Aku hanya mencari
Apa yang engkau curi dari laci yang terkunci
Apa yang kau bawa dengan tergesa-gesa
Itu milik mereka

Tak mau aku menerimanya
Walaupun kau bagi dua
Aku tahu mereka yang disana
Tak berdaya melihat tingkah kita

Ingat kawan siapa kita, dari mana kita..
Kembalikanlah apa yang telah kau bawa
Tanpa seizin mereka....


Hitam

Seperti hitam, Selalu Kelam dan mencekam
Dalam cakram yang berputar mengelilingi ingatan
Mengajaku berkeliaran menyusuri sendi kehidupan

Malam yang hitam
Malam yang penuh kehancuran
Aku melihat satu kejadian
Yang tak pernah aku bayangkan

Malam yang kelam
Dengan setumpuk harapan disertai rayuan
Kehormatan rela engkau berikan
Tanpa akibat engkau pikirkan

Malam yang mencekam
Semua hal dikesampingkan
Asal engkau bisa dapatkan
Apa yang kau inginkan
Engkau pasti lakukan